HARI PERTAMA - SUNYI

 

Pagi ini aku terbangun ketika adzan subuh berkumandang. Semua yang ada dihatiku terasa sangat berat saat ini. Air mata yang terus saja mengalir semenjak selesai menunaikan sholat subuh tadi. Aku merasa takut untuk melangkah dan melewati hari-hari esok. Sungguh jauh dilubuk hatiku, rasa khawatir dan sesak begitu menghantui. Sebagai manusia yang sangat rapuh, aku tidak mampu melewati satu hari tanpa Engkau beri kekuatan. Ini akan jadi hari pertama diriku, jiwaku, hatiku, dan pikiranku yang semula terkait dengan laki-laki itu sekarang aku letakkan dan berikan seluruhnya kepadaMu. Lelah rasanya jika hanya menanggung sendirian padahal aku punya rumah yaitu Tuhanku.  Aku merasa sunyi...

Ada yang ingin aku bagi dengan-Mu,

Darinya aku belajar banyak hal. Ia berkata disalah satu tulisan dalam bukunya yang berjudul “Jalan Sunyi” bahwa kita akan menemukan Tuhan dalam kesunyian. Aku ingin mengikuti cara itu untuk menemui-Mu. Ku syukuri semua takdir yang pernah terjadi padaku, salah satunya pertemuanku dengan beliau. Laki-laki yang dapat membuat hatiku bahagia saat itu. Aku merasa bangga telah mengenal sosoknya, laki-laki yang menjadikan ayahnya sebagai role model. Dia yang dihidupnya hanya ingin membahagiakan orang-orang disekitarnya. Laki-laki yang rela mengorbankan apa saja hanya untuk dapat melihat senyum indah diwajah ibunya. Seperti yang Engkau ketahui, laki-laki itu unik yang menjadikan warna hitam sebagai simbol dirinya. Dia juga hobi mengendarai vespa merah miliknya. Satu lagi, yang sering membuatku ketawa kecil ketika kerap melihatnya memakai syal etnik saat keluar rumah. He..he..he.. dia memang bagian dari ciptaanMu yang unik yang pernah kutemui.

Kabar darinya kemarin mungkin bisa dikatakan salahsatu kabar yang tidak pernah ingin aku dengar sebelumnya. Dan aku meyakini semua itu juga atas kehendakMu. Lewat dia, mungkin saat ini Engkau sedang mengajariku untuk “ikhlas”. Yang aku yakini Dia hanyalah milikMu. Dia hanya ciptaanMu, begitu juga aku.

Gerbang sunyi yang akan aku masuki, meskipun harus kulewati dengan sendiri. Pada akhirnya nanti, entah siapa ciptaanMu yang ditakdirkan akan menemuiku dalam kesunyian ini. Sehingga dia akan menjadi temanku yang bersedia menemaniku untuk menikmati rasa sunyi yang bernaung dibawah takdir-Mu.



.... Berlanjut

Comments

Post a Comment